Jumat, 11 Desember 2009

PENGARUH KONDISI EKONOMI KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IV SDN TAWANGREJO 1 TAHUN AJARAN 2009/2010

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU RI NO. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagai berikut: Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan yang hendak dicapai pemerintah Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu pemerintah telah memberikan kesempatan yang luas untuk memperoleh pendidikan bagi seluruh Rakyat Indonesia. Dalam tugasnya sehari-hari guru dihadapkan pada suatu permasalahan yaitu ia harus memberi pengajaran yang sama kepada murid yang berbeda-beda. Perbedaan itu berasal dari lingkungan kebudayaan, lingkungan sosial, jenis kelamin dan lain-lain.

Salah satu tujuan siswa bersekolah adalah untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan kemampuannya. Penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui 2 (dua) jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan. Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.

Keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga (orang tua), anggota masyarakat dan pemerintah. Pemerintah dan masyarakat menyediakan tempat untuk belajar yaitu sekolah. Sekolah menampung siswa-siswinya dari berbagai macam latar belakang atau kondisi sosial ekonomi yang berbeda. Bahar dalam Yerikho (2007), menyatakan bahwa: pada umumnya anak yang berasal dari keluarga menengah kaeatas lebih banyak mendapatkan pengarahan dan bimbingan yang baik dari orang tua mereka. Anak-anak yang berlatar belakang ekonomi rendah, kurang dapat mendapat bimbingan dan pengarahan yang cukup dari orang tua mereka, karena orang tua lebih memusatkan perhatiannya pada bagaimana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang dikenal oleh anak dan dalam keluarga ini dapat ditanamkan sikap-sikap yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Keluarga bertanggung jawab menyediakan dana untuk kebutuhan pendidikan anak. Keluarga (orang tua) yang keadaan sosial ekonominya tinggi tidak akan banyak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak, berbeda dengan orang tua yang keadaan sosial ekonominya rendah. Contohnya: anak dalam belajar akan sangat memerlukan sarana penunjang belajarnya, yang kadang-kadang harganya mahal. Bila kebutuhannya tidak terpenuhi maka ini akan menjadi penghambat bagi anak dalam pembelajaran.

Keadaan yang demikian terjadi juga di SD Tawangrejo 1 Kab. Blora, dimana sekolah ini menampung siswa-siswinya dari berbagai macam latar belakang ekonomi orang tua yang berbeda. Keragaman latar belakang ekonomi orang tua tersebut dapat berpengaruh pula pada kemampuan membiayai kepada anak-anaknya, sehingga keadaan sosial ekonomi orang tua merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan anak.

B. Perumusan Masalah

Perumusan Masalah pada penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagaimankah gambaran tentang keadaan sosial ekonomi keluarga siswa kelas IV SD Tawangrejo 1 Kabupaten Blora?

2. Bagaimanakah pengaruhnya kondisi sosial ekonomi keluarga yang berbeda terhadap prestasi belajar Siswa?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :

1 Ingin mengetahui bagaimanakah kondisi sosial ekonomi keluarga kelas IV SD Tawangrejo 1 dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar Siswa.

2. Untuk mengetahui besarnya pengaruh latar belakang sosial ekonomi keluarga yang berbeda terhadap prestasi belajar Siswa.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah :

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini memberi sumbangan kepada ilmu pendidikan tentang pengaruh kondisi sosial ekonomi keluarga terhadap prestasi belajar siswa.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru

Dapat mengetahui prestasi belajar siswa yang dipengaruhi kondisi sosial ekonomi keluarga.

b. Bagi Orang Tua

Dapat menemukan solusi untuk meningkatkan prestasi belajar anaknya.


BAB II

KAJIAN TEORETIK

A. Landasan Teori

1. Kondisi Ekonomi

Keadaan ekonomi setiap orang itu berbeda-beda dan bertingkat, ada yang keadaan ekonominya tinggi, sedang, dan rendah. Sosial ekonomi menurut Abdulsyani (1994) adalah kedudukan atau posisi sesorang dalam kelompok manusia yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, pendapatan, tingkat pendidikan, jenis rumah tinggal, dan jabatan dalam organisasi, sedangkan menurut Soerjono Soekanto (2001) ekonomi adalah posisi seseorang dalam masyarakat berkaitan dengan orang lain dalam arti lingkungan peraulan, prestasinya, dan hak-hak serta kewajibannya dalam hubunganya dengan sumber daya.

Ada beberapa faktor yang dapat menentukan tinggi rendahnya keadaan ekonomi orang tua di masyarakat, diantaranya tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan pemilikan kekayaan atau fasilitas.

a. Tingkat Pendidikan

Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 pasal 1, pada dasarnya jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didika secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan adalah aktivitas dan usaha untuk meningkatkan kepribadian dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rokhani (pikir, cipta, rasa, dan hati nurani) serta jasmani (panca indera dan keterampilan-keterampilan).

Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Pendidikan bertujuan untuk “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan diselenggarakan melalui jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan jalur pendidikan luar sekolah (pendidikan non formal). Jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal) terdapat jenjang pendidikan sekolah, jenjang pendidikan sekolah pada dasarnya terdiri dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

1) Pendidikan prasekolah.

Menurut PP No. 27 tahun 1990 dalam Kunaryo (2000), pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani peserta didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah.

2) Pendidikan dasar

Menurut PP No. 28 tahun 1990 dalam Kunaryo (2000) pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun. Diselengarakan selama enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah lanjutan tingkat pertama atau satuan pendidikan yang sederajat. Tujuan pendidikan dasar adalah untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi anggota masyarakat, warga Negara dan anggota umat manusias serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

3) Pendidikan Menegah

Menurut PP No. 29 tahun 1990 dalam Kunaryo (2000), pendidikan menengah adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi pendidikan dasar. Bentuk satuan pendidikan yang terdiri atas: Sekolah Menengah Umum, Sekolah Menengah Kejuruan, Sekolah Menengah Keagamaan, Sekolah Menengah Kedinasan, dan Sekolah Menengah Luar Biasa.

4) Pendidikan Tinggi

Menurut UU No. 2 tahun 1989 dalam Kunaryo (2000), pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan, atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi, yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas.

Dalam penelitian ini untuk mengetahui tingkat pendidikan orang tua selain dilihat dari jenjangnya juga dapat dilihat dari tahun sukses atau lamanya orang tua sekolah. Semakin lama orang tua bersekolah berarti semakin tinggi jenjang pendidikannya. Contohnya, orang tua yang hanya sekolah 6 tahun berarti hanya sekolah sampai SD berbeda dengan orang yang sekolahnya sampai 12 tahun berarti lulusan SMA. Tingkat pendidikan yang pernah ditempuh orang tua berpengaruh pada kelanjutan sekolah anak mereka. Orang tua yang memiliki pendidikan yang tinggi mempunyai dorongan atau motivasi yang besar untuk menyekolahkan anak mereka.

b. Pendapatan

Pendapatan adalah jumlah semua pendapatan kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya yang diwujudkan dalam bentuk uang dan barang. Berdasarkan jenisnya, Biro Pusat Statistik membedakan pendapatan menjadi dua yaitu:

1) Pendapatan berupa barang

Pendapatan berupa barang merupakan segala penghasilan yang bersifat regular dan biasa, akan tetapi tidak selalu berupa balas jasa dan diterimakan dalam bentuk barang atau jasa. Barang dan jasa yang diterima/diperoleh dinilai dengan harga pasar sekalipun tidak diimbangi ataupun disertai transaksi uang oleh yang menikmati barang dan jasa tersebut.

Demikian juga penerimaan barang secara cuma-cuma, pembelian barang dan jasa dengan harta subsidi atau reduksi dari majikan merupakan pendapatan berupa barang.

2) Pendapatan berupa uang

Berdasarkan bidang kegiatannya, pendapatan meliputi pendapatan sektor formal dan pendapatan sektor informal. Pendapatan sektor formal adalah segala penghasilan baik berupa barang atau uang yang bersifat regular dan diterimakan biasanya balas jasa atau kontrasepsi di sektor formal yang terdiri dari pendapatan berupa uang, meliputi: gaji, upah dan hasil infestasi dan pendapatan berupa barang-barang meliputi: beras, pengobatan, transportasi, perumahan, maupun yang berupa rekreasi.

Pendapatan sektor informal adalah segala penghasilan baik berupa barang maupun uang yang diterima sebagai balas jasa atau kontraprestasi di sektor informal yang terdiri dari pendapatan dari hasil infestasi, pendapatan yang diperoleh dari keuntungan sosial, dan pendapatan dari usaha sendiri, yaitu hasil bersih usaha yang dilakukan sendiri, komisi dan penjualan dari hasil kerajinan rumah.

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pendapatan orang tua adalah penghasilan berupa uang yang diterima sebagai balas jasa dari kegiatan baik dari sektor formal dan informal selama satu bulan dalam satuan rupiah. Besar kecilnya pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk akan berbeda antara yang satu dengan yang lain, hal ini karena dipengaruhi oleh keadaan penduduk sendiri dalam melakukan berbagai macam kegiatan sehari-hari.

c. Pemilikan Kekayaan atau Fasilitas.

Pemilikan kekayaan atau fasilitas adalah kekayaan dalam bentuk barang-barang dimana masih bermanfaat dalam menunjang kehidupan ekonominya. Fasilitas atau kekayaan itu antara lain:

1) Barang-barang berharga

Menurut Abdulsyani (1994), bahwa pemilikan kekayaan yang bernilai ekonomis dalam berbagai bentuk dan ukuran seperti perhiasan, televisi, kulkas dan lain-lain dapat menunjukkan adanya pelapisan dalam masyarakat.

Dalam penelitian ini barang-barang dapat menunjukkan keadaan ekonomi seseorang. Barang-barang yang berharga tersebut antara lain tanah, sawah, rumah dan lain-lain. Barang-barang tersebut bisa digunakan untuk membiayai pendidikan anak. Semakin banyak kepemilikan harta yang bernilai ekonomi dimiliki orang tua maka akan semakin luas kesempatan orang tua untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya, dan orang tua dapat mencukupi semua fasilitas belajar anak, sehingga dapat memotivasi anak untuk berprestasi.

2) Jenis-jenis kendaraan pribadi.

Kendaraan pribadi dapat digunakan sebagai alat ukur tinggi rendahnya tingkat ekonomi orang tua. Misalnya: orang yang mempunyai mobil akan merasa lebih tinggi tingkat ekonominya dari pada orang yang mempunyai sepeda motor.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.

Menurut slameto, secara umum faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor intern dan faktor ekstern Slameto (2003:54). Faktor intern meliputi, faktor jasmaniah, kelelahan dan psikologis sedangkan faktor ekstern meliputi faktor keluarga, sekolah, masyarakat. Faktor keluarga juga dibagi menjadi 5 bagian yang meliputi :

1) Cara mendidik, orang tua yang memanjakkan anaknya, maka setelah anak sekolah akan menjadi siswa yang kurang bertanggung jawab dan takut menghadapi tantangan kesulitan. Juga orang tua yang terlalu keras mendidik anak mengakibatkan anak menjadi penakut.

2) Suasana keluarga, hubungan keluarga yang kurang harmonis, menyebabkan anak kurang semangat untuk belajar. Suasana yang menyenangkan, akrab dan penuh kasih sayang akan memberi motivasi yang mendalam.

3) Pengertian orang tua, anak dalam belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu tugas-tugas rumah. Apabila anak mengalami kesulitan di sekolah diharapkan orang tua untuk membantu memecahkan kesulitan tersebut, orang tua memberi dorongan semangat kepada anaknya.

4) Keadaan ekonomi keluarga, anak dalam belajar kadang-kadang memerlukan sarana yang kadang-kadang mahal. Bila keadaan ekonomi keluarga tidak mencukupi, dapat menjadi penghambat anak dalam belajar.

5) Latar belakang kebudayaan, tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga, mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu ditanamkan kepada anak kebiasaan-kebiasaan yang baik agar mendorong semangat anak dalam belajar.

5. Pengertian Prestasi Belajar.

Seseorang yang telah melakukan suatu pekerjaan tentunya mengaharapkan untuk memperoleh suatu hasil dari kegiatanya. Menurut Catharina (2006) prestasi belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar. Tidak semua perubahan tingkah laku dapat dikategorikan sebagai suatu hasil belajar. Ada beberapa persyaratan, sehingga suatu perolehan perubahan tingkah laku baru dapat diartikan sebagai hasil belajar. Persyaratan itu adalah bahwa hasil belajar itu merupakan pencapaian dari suatu tujuan belajar. Hasil belajar itu merupakan usaha dari kegiatan yang disadari, belajar itu sendiri merupakan proses latihan yang berfungsi efektif untuk jangka waktu tertentu dan hasil belajar itu perlu, karena berfungsi positif bagi tingkah laku lain.

Untuk mengetahui prestasi belajar setiap siswa perlu dikatakan penilaian atau evaluasi. Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses yang berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna pengambilan keputusan. Penilaian proses dan hasil belajar bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pendidikandan atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum, garis-garis besar program pengajaran atau dalam perangkat perencanaan kegiatan pembelajaran lainnya.

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan suatu perubahan tingkah laku dikategorikan sebagai hasil belajar, jadi hasil belajar itu harus membawa perubahan dan perubahan itu terdapat dalam keadaan sadar dan disengaja, dan bentuk dari hasil belajar itu dapat berupa pengetahuan, keterampilan ataupun nilai-nilai hidup, namun dalam penelitian ini yang dimaksud dengan “Prestasi Belajar” adalah informasi nilai yang menunjukkan tingkat ketercapaian tujuan pembelajran yang telah ditetapkan dalam garis-garis program pembelajaran dalam hal ini prestasi belajar ditunjukkan dengan nilai raport semester 1 pada kelas IV. Jika nilai raport > 65 berarti sudah mencapai ketuntasan, tetapi jika nilai raport < 65 maka belum mencapai ketuntasan.

6. Pengaruh Kondisi Ekonomi Terhadap Prestasi Belajar

Keluarga dengan pendapatan cukup atau tinggi pada umumnya akan lebih mudah memenuhi segala kebutuhan sekolah dan keperluan lain. Berbeda dengan keluarga yang mempunyai penghasilan relatif rendah, pada umumnya mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah, begitu juga dengan keperluan lainnya. Menurut Hamalik (1983) keadaan ekonomi yang baik dapat yang menghambat ataupun mendorong dalam belajar. Masalah biaya pendidikan juga merupakan sumber kekuatan dalam belajar karena kurangnya biaya pendidikan akan sangat mengganggu kelancaran belajar.

Salah satu fakta yang mempengaruhi tingkat pendidikan anak adalah pendapatan keluarga. Tingkat ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap prestasi belajar siswa di sekolah, sebab segala kebutuhan anak yang berkenaan dengan pendidikan akan membutuhkan ekonomi keluarga (orang tua).

B. Kerangka Berfikir

Berdasarkan landasan teori tersebut, kondisi ekonomi keluarga (independent) yang dilambangkan (X) mempunyai hubungan dengan prestasi belajar siswa sebagai variabel terikat (dependent) yang dilambangkan (Y) yang didapat anak di sekolah.dengan kondisi ekonomi keluarga (X), diharapkan prestasi belajar (Y) anak dapat lebih baik. Oleh karena itu dimungkinkan dengan kondisi ekonomi keluarga, prestasi belajar anak menjadi lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi keluarga yang rendah.

Variabel Bebas

(independent)

(X)

Kondisi Ekonomi Keluarga

Variabel Terikat

(dependent)

(Y)

Prestasi Belajar Siswa


C. Hipotesis

Dari paparan teoritis sebagaimana uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis bahwa ada pengaruh tingkat ekonomi keluarga (orang tua) terhadap prestasi belajar siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh orang tua siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun ajaran 2009/2010 yang terdiri dari 35 orang tua siswa.

B. Sampel dan Tekhnik Sampling.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun ajaran 2009/2010. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan tujuan mendapatkan sampel yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Kriteria dalam pengambilan sampel adalah :

1. Seluruh siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun ajaran 2009/2010.

2. Siswa yang masih memiliki orang tua dan masih bekerja dalam suatu instansi maupun wiraswasta.

C. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel, yaitu:

1. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas dalam penelitian ini, adalah kondisi ekonomi keluarga, yang terdiri dari:

a. Tingkat Pendidikan

b. Tingkat Pendapatan

c. Pemilikan Kekayaan atau Fasilitas

2. Variabel terikat (Y)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar, yaitu rata-rata nilai raport semester 1 siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun ajaran 2009/2010.

Hubungan antara faktor yang mempengaruhi tingkat ekonomi keluarga (variabel babas) terhadap prestasi belajar (variabel terikat) dapat ditunjukkan pada skema berikut:

Variabel bebas (X)

(Tingkat Ekonomi Keluarga)

Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendapatan
Kepemilikan Kekayaan/Fasilitas


Variabel Terikat (Y)

Prestasi Belajar Siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1

Keterangan variabel bebas X mempengaruhi variabel terikat Y

D. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang dipakai,adalah:

1. Metode angket

Dalam penelitian ini, angket digunakan untuk mengetahui kondisi ekonomi keluarga.

2. Metode dokumentasi

Metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui nilai raport semester 1 siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun pelajaran 2009/2010.

E. Metode Analisis Data

1. Deskriptif Presentatif

Deskriptif presentatif digunakan untuk memberikan deskriptif atau pembahasan dalam penelitian ini. Langkah-langkah yang ditempuh dalam menggunakan teknik analisis ini, yaitu:

a. Membuat tabel distribusi jawaban angket X dan Y

b. Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan.

c. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap responden.

d. Menurut Ali dalam Aryana (2004) langkah yang selanjutnya adalah menentukan skor tersebut kedalam rumus sebagaiberikut:

DP = n x 100%

N

Keterangan:

DP = Deskriptif persentase

n = Nilai yang diperoleh

N = Jumlah seluruh nilai yang diharapkan

Data yang di peroleh melalui angket (sebagai metode utama) dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1). Mengelompokkan data sesuai dengan jenisnya.

2). Membuat tabulasi data.

3). Data yang telah ditabulasi kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua siswa terhadap prestasi belajar.

Untuk mempermudah analisis data, yang berasal dari angket bertingkat maka perlu diketahui skor yang diperoleh responden dari hasil angket yang telah diisi (Arikunto, 2006). Untuk itu perlu ditentukan kriteria penskoran sebagai berikut :

1). Untuk alternatif jawaban a diberi skor 4

2). Untuk alternatif jawaban b diberi skor 3

3). Untuk alternatif jawaban c diberi skor 2

4). Untuk alternatif jawaban d diberi skor 1

2. Analisis Regresi Sederhana

Metode ini digunakan untuk menghitung sejauh mana pengaruh antara kondisi ekonomi keluarga terhadap prestasi belajar siswa. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis adalah sebagai berikut:

a. Mencari persamaan garis regresi.

Digunakan tekhnik analisis regresi linear satu variabel, dengan persamaan sebagai berikut (Sugiyono, 2005):

Y = a + bX

Y : Variabel terikat (Prestasi belajar)

a : konstanta

b : koefisien regresi variabel X

X : variabel bebas (Kondisi sosial ekonomi)

b. Uji signifikan garis regresi dari harga F regresi.

c. Koefisien determinasi

4 komentar:

  1. Tolong lanjutkan bab iv bersama kesimpulannya.tks

    BalasHapus
  2. bang boleh nanya gk,,, pembuatan proposal ini,, sumbernya buku apa aja y bg ??

    BalasHapus